Archive for November, 2009

rayuan gombal

Girl: Do I ever cross your mind?
Boy: No
Girl: Do you like me?
Boy: Not really
Girl: Do you want me?
Boy: No
Girl: Would you cry if I left?
Boy: No
Girl: Would you live for me?
Boy: No
Girl: Would you do anything for me?
Boy: No way
Girl: What would you choose: your life..or me?
Boy: My life

The girl runs away in shock and pain and the boy runs after her and says…
The reason you never cross my mind is because you’re always on my mind.
The reason why I don’t like you is because I love you.
The reason I don’t want you is because I need you.
The reason I wouldn’t cry if you left is because I would die if you left.
The reason I wouldn’t live for you is because I would die for you.
The reason why I’m not willing to do anything for you is because I would do everything for you.
The reason I chose my life is because you ARE my life.
author: unknown

Do’a untuk kekasih…

Untuk seseorang yang telah mengisi ruang hati yang dulunya hampa…
 
Allah yang Maha Pemurah..
Terima kasih Engkau telah menciptakan dia..
Dan mempertemukanku dengannya…

Terima kasih untuk saat-saat indah yang dapat kami nikmati bersama…
Terima kasih untuk setiap pertemuan yang dapat kami lalui bersama…

Aku datang bersujud kepadaMU…
Sucikan hatiku Ya Allah…
Sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidupku…

Ya Allah, jika aku bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan aku merindukan kehadirannya…
Janganlah biarkan aku melabuhkan hatiku di hatinya…
Kikislah pesonanya dari pelupuk mataku…
Dan jauhkan dia dari relung hatiku…

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni…
Dan tolonglah aku agar dapat mengasihinya sebagai sahabat…

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untukku…
Ya Allah, tolong satukan hati kami…
Bantulah aku untuk mencintai, mengerti, dan menerima dia seutuhnya…
Berikan aku kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya…

Ridhoi dia agar dia juga mencintai, mengerti, dan mau menerimaku dengan segala kelebihan dan kekurangan diriku sebagaimana telah Engkau ciptakan…

Yakinkanlah dia bahwa aku sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan dukaku dengannya…

Ya Allah yang Maha Pengasih,
Dengarkanlah do’aku ini…
Lepaskanlah aku dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU…

Allah yang Maha Kekal,
Aku mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untukku…
Luka dan keraguan yang kualami, pasti ada hikmahnya…

Pergumulan ini mengajarkanku untuk hidup makin dekat kepadaMU
Untuk lebih peka terhadap suaraMU
Yang membimbingku menuju terangMU…

Ajarkanku untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan…

Jadikan kehendakMU dan bukan kehendakku yang menjadi dalam setiap bagian hidupku…

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku…

Amien…

apa yang kita sombongkan??

APA YANG KITA SOMBONGKAN ??

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru, dan dia tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka
pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh factor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh factor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.
Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.